Jumat, 14 Maret 2014

ketakutan

ketakutan itu kembali muncul,
ia hilang dalam keramaian,
dan datang kembali dalam keheningan..

Rasa takut itu menghampiri saat sepi, seiring sunyi yang perlahan merasuk sanubari..

ketakutan ini kemudian menjadi teman,
seolah teman yang tak lelah mengingatkan...bahwa;
ada Dzat yang harus diprioritaskan..

Ketakutan membuat aku mencari,
Kemana aku seharusnya berlindung diri?
Dimana aku seharusnya bersandar hati?

Terjawab dalan sejuta makna
makna yang terkandung dalam asa..

kelak, tatkala ketakutan ini tersudahi,
aku tau dimana aku berdiri..
Ya, di depanMu..
Menghisab segala perbuatan selama ini..

'Aku berlindung hanya kepadaMu, Yaa Rabbi'

Selasa, 04 Maret 2014

diam, kejauhan, kesederhanaan, keikhlasan

ketika pandangan aku lepaskan
ketika perhatian aku berikan
ketika kegundahan aku adukan
ketika kebahagiaan aku bagikan...
pada dia selain-Nya,
ketika itu pula aku tersadar; bahwa langkahku telah melenceng dari aturan.

Dan benar lah tentang ancamanNya; semua akan berujung pada keresahan..
Gelisah yang tak berkesudahaan, buah dari kekhilafan..
Sekali lagi, ketenangan tak akan datang beriringan dengan kemaksiatan..

Berkatalah aku pada diriku sendiri,
Cobalah bercermin, tanya pada sosok yang ada di cermin;

"jujur pada matamu, apa yang telah kau pandang?, jujur pada telingamu, apa yang telah kau dengarkan?, jujur pada mulutmu, apa yang telah kau ucapkan?, jujur pada hatimu, apa yang telah kau angankan?
Diam lah sejenak,
ijinkan hati kecilmu memusabahi segala kealpaan dan kebodohan yang menyulutkan kecemburuan dari Sang Maha Penyayang,"

kini, aku mengharap yang terbaik, bukan menurutku, tapi menurut Dia..

Aku yakin...saat Allah membenci suatu khilaf hamba-Nya, sesungguhnya Allah tetap menjadi yang paling mencintai kita. Karna, cinta Allah akan selalu ada tuk hamba yang mau kembali pada-Nya.
Meski tak mudah untuk kaki ini melangkah,
tapi aku harus tetap berbalik arah, kembali kepada-Nya..

Dan tuk kini,
Biarkan aku dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan...

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-










Senin, 03 Maret 2014

Entah


kadang kita harus membuang sesuatu bukan karena kita tidak suka, tapi karna terlalu suka namun membuat resah.
Kadang kita harus merelakan sesuatu bukan karena kita tidak sayang, tapi karna terlalu sayang, namun membuat perasaan tak tenang.
Kadang kita harus melenyapkan sesuatu bukan karena kita tidak ingin, tapi justru karna terlalu ingin, namun membuat hati bak terombang ambing.
Timbul sebuah pertanyaan,
Mengapa yang kita sukai, sayangi, dan ingini justru membuat perasaan menjadi resah,  tak tenang, bahkan bak terombang ambing?
Apa yang salah?
Hmm, yang jelas Allah tidak pernah salah memberikan semua rasa itu kepada kita. Dia Maha Sempurna atas segala ketetapan-Nya.
Hanya saja kita kurang menyadari;
Bahwa kita tak akan pernah mampu menerima rasa-rasa tersebut tanpa memohon perlindungan dari-Nya.
Dan kita harus paham, ketenangan tak akan pernah datang beriringan dengan rasa-rasa yang tak dikelola sesuai cara yang Dia Suka.
Sungguh, kita itu adalah aku.

Yaa Allah, aku berlindung darimu dari semua rasa-rasa itu.

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-