Minggu, 26 Januari 2014

Saat Engkau Anugerahi Cinta

Malam kian larut, pekat, dan gelap,
Sang bulan hadir, mempercantik langit dengan menampakan wajahnya..
Bintang-bintang seolah menemani, menebarkan cahaya-cahaya kecil membentuk gugusan-gugusan..
PenciptaanMu sungguh sempurna..
Sesempurna cinta-Mu pada kami hamba yang tak pernah sempurna taat kepadaMu,

*intermezzo*


Saat Engkau Anugerahi Cinta,

Hamba memohon..
Jangan biarkan hamba salah menjaga dan mengendalikan anugerah itu..
Jangan buat hamba lupa bahwa anugerah itu hanya titipan-Mu..
Jangan yang dengannya justru menjauhkan hamba dari cinta-Mu..

Jika suatu hari Engkau anugerahkan hamba cinta,
Hamba memohon..
Anugerahkanlah cinta yang menyejukkan, sesejuk tetesan air dikala kering dan gersang
Anugerahkanlah cinta yang tak sempurna di mata hamba, agar di hati hamba kesempurnaan hanya milik-Mu..
Anugerahkanlah cinta yang tak membuat hamba menduakan-Mu, tapi semakin mendekatkan diri pada-Mu..

Dan suatu hari nanti,
Jika Engkau anugerahkan hamba cinta (dengan dia yang tuk saat ini hamba belum ketahui berada dimana),
Ridhoi langkah hamba meraihnya dengan cara yang Engkau cinta..
Jangan Engkau biarkan hamba terjebak dalam cinta yang belum waktunya..
Hadirkanlah cintaa di hati ini pada tempat dan waktu yang tepat (hanya tuk dia yang memang Engkau takdirkan menjadi imam hamba kelak)

Genggamlah hati ini Yaa Rabb,
Jagalah hati ini Yaa Rabb,
Lindungi hati ini Yaa Rabb, 
Sungguh, hanya Engkau sebaik-baik Pelindung dan Pemilik Hati seluruh hamba-Mu..

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii

Mengapa?


Mengapa kita harus melihat pekatnya malam sebelum menyongsong  pagi yang cerah?
Mengapa kita harus merasakan lebatnya hujan sebelum menikmati elok pelangi di hamparan mega?
Mengapa kita harus tahan dengan ulat sebelum dapat menyaksikan pesona sayap kupu-kupu yang merekah?

Mengapa?

Semua seakan mengingatkan,
Bahwa ada hal yang tidak kita suka, padahal bisa jadi lebih baik di akhir,
Bahwa ada hal yang Allah rancang sebagai misteri,  dan memaksa kita mematri sabar serta syukur di hati.

Setidak-tidak sukanya kita terhadap sesuatu yang terjadi, esok In Syaa Allah kita akan mengerti, bahwa rencana Allah adalah terbaik.

Sadarlah,
Kita mahluk yang serba tidak tau,
Bahkan seperti apa kita beberapa detik lagi kita tidak tau.

Percayakan semua pada Sang Maha Tau

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii








Sabtu, 25 Januari 2014

Apa yang Aku Cari?

Jarum jam mengarah pukul 9 lewat 48 menit. Aku memilih duduk selonjor sembari bersandar di dinding bercat biru kamarku. Ya, tepat di samping jendela yang tidak tertutup full. Aku memang sengaja tak menutup rapat agar angin dapat masuk dari sela-sela jendela dan menyejukkan seiisi kamar.
Satu per satu tuts keyboard aku tekan. Tak tik tak tik tak tik. Begitulah irama mengalun kasar. Tapi aku tetap menikmatinya. Aku anggap itu alunan hasil peraduan pikiran dan perasaan..
*intermezzo*

Apa yang Aku Cari?
Mengapa Aku terlalu risau tentang masa depan di dunia, sementara ia belum pasti kedatangannya.
Mengapa Aku kerap lalai tentang masa depan di alam baka, padahal kelak aku kekal di dalamnya.
Adakah Aku lupa, sesungguhnya Aku tak pernah memiliki hari esok, dan yang aku punya hanya hari ini.
Karna bila usia telah sampai di hari esok, saat itu Aku tak akan lagi menyebutnya “esok”, tapi “hari ini”.
Bangunlah wahai diri!
Waktu terus berganti dan tak menunggumu sadar tentang akhir kehidupan ini.
Ingatlah mereka yang ada disana!
Mereka adalah nasehat, mereka adalah pengingat; disini kamu hanya sementara, dan disana kamu akan lama.

Teringat pesan Ustad Bachtiar Nasir;
Bukan “Cari kebahagiaan dunia dan jangan lupakan akhirat”, tapi “Cari kebahagiaan akhirat dan jangan lupakan dunia”

Dengan begitu, kamu akan tau mana yang lebih prioritas..


Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii

Minggu, 19 Januari 2014

Ini masalah niatku, Sahabat..

*Menghela nafas*
Bismillahirahmanirrahim

Tulisan ini agak beda, tak banyak kiasan seperti tulisan-tulisan sebelumnya. Dan ini tentang mengapa akhirnya saya mengambil keputusan yang sedikit berpengaruh dalam EQ saya sekarang. Semoga Allah ridhoi dan berkahi setiap langkah saya. Allahumma Aamiin

Ini berawal dari keputusan saya keluar dari 2 group sejenis ODOJ. Mungkin lebih pas disebut adiknya ODOJ, hehe. karna beban tanggungjawabnya lebih ringan. Kedua group itu adalah 'One Week One Juz' dan 'One Day One Sheet with Translete'.

Jujur saya memilih keluar dari group bukan karna tidak nyaman dengan anggotanya, atau beban terhadap tanggungjawabnya. Mereka semua In Syaa Allah positif. Mengingatkan tuk baca Qur'an (sesuai tugas yang ditentukan), dan kerap menyemangati siapapun anggota yang belum bisa menyelesaikan tugas tersebut. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan pahala yang berlipat ganda, sahabat :')

Namun, ada sedikit gejolak di hati saat membaca pemaparan dari postingan seorang odojers ke FB group salafi dengan kata-kata yang terlihat sedikit marah. Intinya, mereka menyayangkan artikel kritikan seorang salafi tentang gerakan ODOJ. Di post tersebut juga melampirkan artikel kounter terhadap artikel kritikan. Dengan judul, "ODOJ, katanya riya, benarkah?".
Sungguh saya seseorang yang masih cacat ibadah, fakir ilmu, awam pengalaman. Jadi, tak punya kapasitas dan tak akan mencela siapapun. Baik penulis artikel maupun odojers. Saya berdoa semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT :')

Disini saya tidak katakan kritikan itu benar, atau men-judge salah. Semua punya alasan yang In Syaa Allah baik. Wahai sahabat yang dikritik, bukankan cinta terhadap saudaranya bisa dilakukan dengan mengingatkan? Wahai sahabat pengkritik, bukankah cinta terhadap saudaranya bisa dilakukan dengan berhuznudzon? dari lubuk hati terdalam, si dhaif ini sedih ketika kitikan dan kounter terhadap kritikan berujung pada pembelaan terhadap manhaj  masing-masing. Dan akhirnya muncul beberapa komen tak bertanggungjawab yang saling menghina satu sama lain. Tiba-tiba saya teringat nasehat Ustad Khalid Basalamah, "SAUDARAKU, SESUNGGUHNYA ISLAM SATU, KIAYI KITA SATU YAITU NABI MUHAMMAD SAW,"

Saya percaya, tak ada satupun manusia di Bumi ini (sejenius apapun) yang mampu membaca niat seseorang. Sungguh hanya Allah yang Maha Mengetahui. Dan keyakinan berkata, niat sahabat ODOJ In Syaa Allah baik. Ingin menjadikan gerakan tersebut sebagai ladang amal dan wadah tuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tapi tak dipungkiri saya bersyukur telah Allah arahkan tuk mengetahui hal ini. Seperti diingatkan untuk memuhasabahi niat di hati. Saya ingin berusaha menjawab pertanyaan yang tiba-tiba menyergap di otak ini, "Ikhlaskah saya membaca firman Allah? Atau selama ini saya mampu menunaikan karna saya gabung di group yang membuat saya berkomit menyelesaikannya tiap hari?

Saya si bodoh yang bacaan Qur'annya berantakan dan buta ilmu tajwid ini sedang berusaha menyelami hati sendiri. Mampukan saya rutin baca Qur'an tanpa bergabung dengan group tertentu? Bisakah saya konsisten dengan kewajiban saat hanya Allah yang tau? Saat tak ada satu orang pun yang memantau.

Saya menghela nafas panjang, melempar pandangan ke depan, dan berpikir sejenak.Tiba-tiba dada saya sesak. Kantung mata seolah tak kuat membendung air yang ingin tumpah. Tak berapa lama pipi pun basah. Sembari sesekali mengusap pipi, saya beristighfar...
Alhamdulillah, saya seperti mendapat ketenangan. Semoga airmata itu karna keridhoan Allah atas keputusan saya. Saya keluar dari groUp yang isinya orang-orang yang penuh semangat berkebaikan, Masyaa Allah :')

Sahabat, jauh dalam lubuk hati ini berdoa, semoga Allah lembutkan hati kita. Dia tanamkan indahnya ukhuwah tanpa ada alasan apapun selain karna Dia. Semoga Dia ridho atas niat dan amal ibadah kita di dunia,"

Nasihat Al Imam Fudhail bin 'Iyadh Rahimullah, "Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya' sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya,"
Semoga Allah menyelamatkan kita dari riya' dan kesyirikan, Allahumma Aamiiin.



Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-

Jumat, 17 Januari 2014

SATU RUANG (untuk Suriah)

Ada satu ruang di hati yang kini terasa bak dibelati,
Sungguh perih membayangkan insan yang kehilangan haknya sebagai makhluk mulia di Bumi.
Kala Orangtua tersedu mendapati anaknya biru membeku.
Kala Istri menjadi saksi Sang Imam dieksekusi tanpa belas kasih.
Kala ‘Malaikat Kecil ’berlari, menjerit, menangis, dan bertanya tentang apa yang sedang terjadi.
Tangisan.. ketakutan.. kepedihan..

Lalu, bagaimana kami disini? Adakah yang tengah kami perjuangkan?

O Yaa Allah, ampuni kami.. ampuni sikap diam kami..
Kami yang  tak peduli dengan tangisan mereka, padahal kami saudara seiman.
Kami yang tak tergerak menghapus kepedihan mereka, padahal kami sesama makhluk Tuhan.
Kami yang menutup mata hati tatkala ketakutan menyelimuti mereka, padahal (seharusnya) kami insan yang punya perasaan.

Sadarkan kami Yaa Rabb.. sadarkan kami tentang satu hal, bahwa;
MEREKA TAK BUTUH PERTOLONGAN KAMI, TAPI KAMI YANG MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN MEREKA.
Ke-syahid-an mereka adalah kebahagian bagi mereka..
Namun, ketidakpedulian kami atas mereka, akan menjadi kesengsaraan kami di Akhirat..

Ridhoi kami memiliki satu ruang di Hati ini, Ya Rabb.. Ruang yang penuh dengan kepedulian dan cinta Lillahi Ta’ala.

"Allahummanshur ikhwaananal mujaahidiina fii Syria wa fii kulli makaan. Ya Rabbal Mustadh'afiin. Ya Rabbal 'Arsyil 'Azhim"



Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-






Senin, 13 Januari 2014

S A Y A


Saat saya memutuskan menyalakan laptop dan menulis malam ini, hal yang terlintas dipikirkan saya adalah saya ingin bercerita sedikit tentang saya. Mungkin tidak ada yang mau tau juga tentang saya. Cuma,  ya namanya pengen nulis ya suka-suka saya dong, ya (apasih, jadi aneh kalimatnya). Hmm baiklah…

Nama saya Dian Paramitha, akrab disapa dian. Seiring bertambah usia, meluasnya  pergaulan, dan banyaknya teman, panggilan pun makin beragam. Ada didi, acha, ino, dipa, dan terakhir ini ada seorang kawan yang memanggil saya madu, hehe.. Semua panggilan ada sejarahnya, tapi rasanya tak perlu diijabarkan ya sejarah masing-masing sapaan tersebut.

Saya dilahirkan dari rahim seorang perempuan bernama Maghdora Sylviani, Ayah saya bernama Syaifuddin Nur. Saya anak ke-4 dari 4 bersaudara. Masing-masing kakak saya bernama, Miranti, Moan, Mahrindra. Kok diawali huruf “m” semua? Kok nama kamu doang yang berawal dari huruf “d”?. Hmm dulu saya juga sempat kepikiran dan bertanya-tanya,  kenapa yaa? Hmm ada apa yaa?. Tapi, apalah arti sebuah huruf depan nama bila daun yang jatuh saja tidak pernah membenci angin (oke, saya tau kalau perumpamaannya tidak pas).


Sejak kecil saya tinggal di rumah opung (sapaan untuk kakek bagi suku Batak). Tepatnya sejak ayah dan mama pisah. Untuk mengurangi biaya hidup, mama memutuskan membawa anak-anaknya tinggal bersama opung. Disana mama juga berperan sebagai ibu rumah tangga, karena opung haji(sapaan untuk nenek kami) sudah meninggal. Jadi, mama yang mengurus keperluan opung sehari-hari. Sebenarnya sampai detik ini kami masih tinggal di rumah opung.Ya, bisa dikatakan kami tumbuh besar di rumah sederhana itu. 


TO BE CONTINUE...........

Ini tentang rasa..


Allah sematkan rasa di hati.. yang insan sebut cinta
Banyak yang berucap cinta itu fitrah, anugerah  terindah dari Sang Maha Cinta
Namun, ada yang tak boleh dilupa, bahwa Dia tak ingin cinta salah arah
Jangan lelah menela'ah, kemana cinta kan terbawa... Apakah cinta tumbuh sebagai berkah, atau justru menjadi musibah?


Sungguh hanya Allah Dzat penentu..
Tapi perilaku dapat menjadi pemicu.
Memang, cinta hadir tanpa ijin lebih dahulu,
Ia muncul seiring rindu yang membelenggu..


Saat nurani tersemat cinta, tak pelak rasa resah beriring takut ikut menyapa.
Ada keresahan tentang waktu yang datang belum pada saatnya...
Ada ketakutan tentang mendua perhatian pada-Nya...


Iringilah dengan diam, sampai yakin bahwa waktu tepat telah Allah sediakan..

Biarkanlah tetap disimpan, sampai lahir batin mampu berucap Lillahi Ta'ala..

Ini akan menjadi rahasia, sampai kita ikhlas menjadikan doa sebagai perantara..
Ketahuilah, ini bukan menutup pintu, hanya memberi waktu..

Wahai calon imam.. jangan engkau datang selain datang atas nama-Nya..
Datanglah jika kau telah sampai di titik siap mengetuk pintu.. memintaku tuk bersatu..


Bismillahirrahmanirrahim,
"Yaa Allah, Karuniakanlah kepada kami pasangan yang dapat menjadi sahabat kami dalam urusan agama, dunia, dan akhirat,"
Aamiiin Ya Robbal'alamiin



Wallahu a'lam bish-shawabi.

*sincerely, its note to Myself*
-dii-





Jumat, 10 Januari 2014

n o t i t l e

Hari ini aku sendu. Entah apa yang terjadi, aku merasa ada yang salah di dalam hati. Ada kesedihan yang aku buat sendiri. Ada kecewa tersemat atas perilaku ini.
Mungkin, ini buah ketidakonsistenan pada janji terhadap diri sendiri..

Aku sadar sesadar-sadarnya,  aku adalah insan yang kurang bersyukur. Kerap lupa akan nikmat Allah yang tak terukur..
Cacat dalam penghambaan. Sombong dalam keterbatasan. Tak sempurna menjadikanNya Muara Pengharapan..

Robbighfirli..Robbighfirli.. Robbighfirli


-dii-


Selasa, 07 Januari 2014

Gerbang Dua-Empat

Dua-empat..
Hari ini -- jika Allah berkenan aku berusia -- angka tersebut akan menemani hingga 365 hari nanti. Nominal yang mendekati seperempat abad. Dan kerap digaung sebagai usia ranum oleh sebagian kaum hawa. Ya, sekarang  aku masih  belum dapat mendeskripsikan lebih, karna aku memang  belum masuk ke gerbang dua-empat.



Jakarta, 7 Januari 2014
-dii-

Rindu (Doa) Bertemu


“Aku rindu..dan aku ingin bertemu,”
Kalimat yang tak asing di telingaku.
Entah mengapa kata rindu kerap disandingkan dengan kata bertemu.
Berjumpa selalu dijadikan obat penyembuh kerinduan.
Tak pelak hati bergejolak bila rindu datang tanpa sua dikemudian.
Dan kebanyakan, amarah menyambar ketika rindu tak dibarengi dengan pertemuan.

Memang! Sering kita lupa; bahwa ada rindu yang tak harus bertemu; bahwa ada rindu yang tak memerlukan perjumpaan; bahwa ada rindu yang indah bila terbalut kesunyian..

..itulah rindu yang tersanding dalam doa.

Perlahan aku coba memaknai rindu semacam itu.
Ada rindu di dalam doa. Ada doa di dalam diam.
Kerinduan yang tersimpan rapih.
Rindu yang tak mendatangkan kegelisahan.
Rindu yang justru memberi ketenangan.

Itu lah kerinduan kepada Allah & Rosul..
Tak perlu bertemu dulu untuk merindu kepada Sang Pemilik & Suri Tauladan..
Semoga Allah ridhoi kita memiliki rasa rindu berjumpa pada-Nya dan kekasih-Nya..
Dan... khusus aku.. rindu terbalut doa juga ku persembahkan untuk alm. mamaku..


Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-

Kecewa?

Hai diri..taukah kamu, kecewa itu hadir bukan karna orang lain. Tapi karna dirimu sendiri.
kamu membiarkan orang lain berkuasa atas hatimu.
Padahal kamu tau,
Kepada siapa kamu harus memasrahkan hatimu.
Kepada siapa kamu semestinya memberi kuasa atas hatimu.
Kepada siapa yang bila kamu pasrahkan hatimu, niscaya tak ada sedikitpun kecewa yang terhimpun.

Oh... sungguh, kecewa itu karna kamu sendiri.

Bagaimana bisa kamu menitipkan hatimu tuk tidak terbolak balik pada seseorang yang hatinya pun mudah terbolak-balik.
Ah, seperti tak mau ada bau minyak tanah yang menempel di tubuhmu, tapi kamu justru bermain dengan tukang minyak tanah. apakah mungkin?

Hai diri,
Lihatlah dirimu!
Kamu telah salah tempat menaruh hatimu.

(Mungkin) sebenarnya tak ada yang salah dengan hati yang mudah terbolak-balik, karna itu lah hal lumrah pada setiap manusia. Namun, salah.. sangat salah, jika kau menitipkan hatimu yang labil itu pada sesama manusia.

Jika rasa kecewa yang ingin kau binasakan, titipkan hatimu pada Sang Maha Kuasa..
Jika kamu ingin hatimu teguh dan tak terbolak-balik, jangan pernah terbesit ragu pada Sang Khalik..

Yakini, tak seorang pun yang mampu memiliki hati kita secara utuh (bahkan diri kita sendiri).Karna, sungguh, hanya Dia Sang Pemilik Hati.


Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-