Minggu, 23 Februari 2014

Buah Manis Kesabaran Orangtua..


Bismillahirrahmanirrahim..
Pagi ini saya mencoba menulis ulang cerita yang saya baca beberapa jam lalu di instagram. Kisah yang –menurut pribadi—menjadi tamparan sekaligus motivasi. Betapa tidak, disini kita akan melihat bahwa mendidik anak menjadi seorang hafidz bisa dilakukan orangtua manapun. Tak melulu mereka yang bergelar ustad/ustadzah atau background pesantren. Jadi, buat kita yang orang tua atau calon orang tua, tidak ada alasan tuk tidak mengarahkan anak-anak kita mencintai Al-Qur’an. In Syaa Allah kisah ini bisa menjadi penyemangat dan pengingat (sincerely, its note to myself).
=============================================================
Kisah pembelajaran Abdullah, haafizhul Qur’an usia 10 tahun. Ayahnya, Farid Fadhillah, bercerita, “Beberapa orang yang nanya ke saya bahwa mereka tidak bisa mendidik anak-anak hafidz dan hafidzhoh karna mereka sendiri bukan hafidz. Sementara anak-anak sekolah di sekolah umum”. Farid akan memberi gambaran keadaan Abdullah dan uminya(sebagai guru utamanya).

Abdullah sebenarnya termasuk anak yang lambat bicaranya. Dia baru  berbicara di usia 4.5 tahun. Sementara ibunya bukanlah hafidhoh atau ustadzah, hanya orang biasa. Abdullah pun sekolah di sekolah umum, bukan pesantren. Bukan pula sekolah tahfidz sebagaimana umumnya dijumpai di Saudi.

Abdullah mulai belajar Al Qur’an dari Ayahnya dengan panduan kitab Iqra yang melegenda itu. Ketika itu usianya 4.5 tahun. Abdullah mulai menghafal Al Qur’an dengan bimbingan uminya sejak usia 5 tahun. Dia menghafal dari potongan suku kata. Caranya, setelah uminya membaca, dia mengikuti per suku kata, diulang berpuluh-puluh kali. Setelah hafal suku kata tersebut, kemudian pindah ke suku kata berikutnya, begitu seterusnya. Sampai dapat 1 baris. Kemudian diulangi lagi baris tersebut berpulu-puluh kali. Setelah itu baru pindah ke baris 2. Dalam sehari Abdullah dapat menghafal 1 – 2 baris, tergantung  kondisinya ketika itu.

Biasanya, Abdullah menghafal dari belakang ke depan, kecuali Al Fatihah. Jadi, surat pertama setelah Al-Fatihah adalah An naas, dan seterusnya hingga Al Baqoroh. Keesokan harinya, sebelum ia melanjutkan hafalan, Abdullah akan mengulangi lagi apa yang dia hafalkan hari sebelunya. Saat hafalannya telah selesai 1 surat, ia akan mengulang-ulangi 1 surat tersebut dalam satu hari.  Dia akan murojaah lagi ketika sudah mendapatkan satu halaman.

Menurut Farid, Umi Abdullah luar biasa sabar membimbing hafalan per suku kata ini sampai Abdullah hafal 2 juz terakhir, yakni juz 29 dan 30. Setelah berhasil dengan metode 2 baris perhari, Uminya menambah menjadi 4 baris hingga setengah halaman sehari. Menurutnya setengah halaman sudah maksimun karena Abdullah juga harus belajar pelajaran lainnya.

Hafalan 4 baris hingga setengah halaman per hari berlangsung kira-kita sampai juz ke 20. Selama masa aktif sekolah Abdullah hanya bisa menghafal 2 juz. Dia mendapat banyak hafalan ketika musim liburan. Semakin lama semakin Abdullah cepat mengahafal, hingga ketika hafalannya kurang 5-6 juz terakhir ia mampu menghafal 4 setengah halaman dalam sehari. “Seingat saya Al-Baqoroh kurang lebih selesai dalam waktu 2 minggu”, ucap Farid.

Ketika musim liburan semester di Saudi, Abdullah mulai mengafal setelah sarapan pagi,  pukul 06.00 – 08.00 waktu Saudi. Setelah 2 jam menghafal, kemudian istirahat setengah jam dan kembali melanjutkan hingga pukul 10.00. Istirahat lagi setengah jam, dan lanjut hingga pukul 12.00. setelah itu sholat dhuhur, makan siang, istirahat. Pukul 15.00 kembali melanjutkan hingga ashar, setelah ashar melanjutkan hingga maghrib. Sementara Abdullah tengah hafalan sendiri, Uminya menerima setoran hafalan adik Abdullah, yaitu Abdurrahman. Alhamdulillah Abdurrahman sudah hafal 12 juz. Setelah adiknya selesai, gentian Abdullah yang setoran. Begitu seterusnya.

“Istri saya hamper setiap malam sakit punggung akibat lamanya duduk untuk menyimak setoran hafalan anak-anak,” cerita Farid yang mengaku sudah 5 tahun menerapkan metode hafalan seperti itu. Sekarang Abdullah tinggal murojaah, focus berpindah pada Abdurrahman. Dan dalam setahun kedepan giliran adik dibawahnya lagi yaitu Abdurrazaq sudah menunggu juga. Masyaa Allah.

Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”. (HR. Al Hakim).

Kisah didapat dari Instagram akun @hijabsyarie, merupakan Cerita yang didapat langsung dari Farid selaku ayah dari Abdullah, dan beliau sudah ijinkan untuk share cerita di atas via Abu Hasan @kajianislam.

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii




Tidak ada komentar:

Posting Komentar