Minggu, 09 Februari 2014

MADU



 “Alhamdulillahirrabbil’alamin”. Mungkin itu kalimat yang pas untuk mengawali tulisan kali ini.
Sejujurnya tidak ada yang patut saya lakukan selain bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Betapa tidak, nikmat Allah selalu tercurah deras kepada saya. Mungkin jika saya menyebutkannya sepanjang usia saya pun pastilah tidak akan habis(nikmat tersebut). Dia memberi melebihi yang diminta. Di mengasihi sekalipun kadang dilupakan. Dia mencintai dengan sempurna meski diri ini hina. Sungguh, Segala Puji Hanya Milik Engkau. Tuhan Semesta Alam.

Ini tentang kejadian minggu lalu. Sepulang dari Malang saya merasa ada yang aneh dengan badan. Beberapa kali saya merasa ngilu di bagian tulang belakang. Suhu tubuh naik turun. Nafsu makan mendadak hilang. Pandangan nanar. Dan semakin tak wajar saat telapak kaki mulai tak nyaman berpijak di lantai lantaran merasa kedinginan yang luar biasa.

Saya memutuskan berdiam di kamar. Saya habiskan hari selasa kemarin dengan membaca, dan tiduran. Hmm, tapi lebih banyak tidurnya sih, hehe. Rupanya istirahat seharian tidak berpengaruh banyak dengan kondisi badan saya. Tepat keesokan harinya, tubuh makin drop. Bahkan jadi sulit untuk duduk. Dan seperti biasa, saya tidak cerita ke orang rumah. 

Namun tak lama kemudian kakak saya engeh setelah dia mendapati saya tengah mengigil. Dia menyarankan ke dokter. Tapi saya hanya iya iya saja. Sejujurnya saya termasuk orang yang males ke dokter. kalau ditanya alasannya kenapa, saya jawab tidak tau. kenapa tidak tau? hmm ..karna kita harus mengerti bahwa , kadang ada hal-hal yang tidak memerlukan alasan, (apacoba, jadi berlebihan eiy).

Balik ke cerita. Sakit membuat saya berpikir jauh. Setiap sedang sakit saya kerap bergumam dalam hati, “Jangan sedih, Dian. Tidak perlu mengeluh kepada siapapun. Sakit In Syaa Allah menjadi penggugur dosa. Inget apa kesalahan-kesalahanmu. Manfaatkan sakit untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dengan mengingat kematian”. La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin.

Saat berpikir akan meminum obat apa tuk meredakan demam yang semakin tinggi, tiba-tiba saya teringat madu hutan yang saya beli di Malang.

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16: 69)

Rosulullah berpesan,
"Ambillah atau pergunakanlah olehmu sekalian akan dua obat penyembuh yaitu madu dan al-Qur'an." (Hadits riwayat Ibnu Majah)

Tanpa membuang waktu, saya langsung minum 2 sendok madu. Beberapa jam kemudian 2 sendok lagi.  Begitu seterusnya. Ya, hari itu perut saya penuh diisi madu. Selain karna memang tidak nafsu makan, madu efektif meredakan rasa pahit di mulut. Setelah minum madu, saya rebahkan badan dan pejamkan mata. Saya tertidur beberapa jam.

Saat bangun saya merasa kepala yang awalnya berat, menjadi lebih ringan. Demam tinggi yang membuat saya tidak sanggup kena air (sekalipun hanya tuk wudhu, dan akhirnya bertayamum) pun ilang. Alhamdulillahirrabbil’alamiin. Allah cepat sekali memberi kesembuhan untuk saya. Mungkin lewat madu tersebut Allah mau meyakini saya bahwa setiap perkataan Rosul benar. Saya seperti diberi teguran agar terus mencari apa kebiasaan-kebiasaan Rosul dan mengikuti semampunya. Sejak saat itu,  In Syaa Allah saya jadi rutin minum madu. Semoga Allah Ridhoi saya tuk bisa mengikuti sunnah Rosul yang lainnya *Senyum*. (Inti tulisan ini bukan promo produk madu tertentu, hanya berbagi khasiat madu)


Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii









Tidak ada komentar:

Posting Komentar