“Alhamdulillahirrabbil’alamin”. Mungkin itu kalimat
yang pas untuk mengawali tulisan kali ini.
Sejujurnya tidak ada yang patut
saya lakukan selain bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Betapa tidak, nikmat
Allah selalu tercurah deras kepada saya. Mungkin jika saya menyebutkannya sepanjang
usia saya pun pastilah tidak akan habis(nikmat tersebut). Dia memberi melebihi yang diminta. Di mengasihi sekalipun kadang dilupakan. Dia mencintai
dengan sempurna meski diri ini hina. Sungguh, Segala Puji Hanya Milik
Engkau. Tuhan Semesta Alam.
Ini tentang kejadian minggu lalu.
Sepulang dari Malang saya merasa ada yang aneh dengan badan. Beberapa kali saya
merasa ngilu di bagian tulang belakang. Suhu tubuh naik turun. Nafsu makan
mendadak hilang. Pandangan nanar. Dan semakin tak wajar saat telapak kaki mulai
tak nyaman berpijak di lantai lantaran merasa kedinginan yang luar biasa.
Saya memutuskan berdiam di kamar.
Saya habiskan hari selasa kemarin dengan membaca, dan tiduran. Hmm, tapi lebih
banyak tidurnya sih, hehe. Rupanya istirahat seharian tidak berpengaruh banyak
dengan kondisi badan saya. Tepat keesokan harinya, tubuh makin drop. Bahkan jadi
sulit untuk duduk. Dan seperti biasa, saya tidak cerita ke orang rumah.
Namun tak lama kemudian kakak
saya engeh setelah dia mendapati saya tengah mengigil. Dia menyarankan ke
dokter. Tapi saya hanya iya iya saja. Sejujurnya saya termasuk orang yang males
ke dokter. kalau ditanya alasannya kenapa, saya jawab tidak tau. kenapa tidak
tau? hmm ..karna kita harus mengerti bahwa , kadang ada hal-hal yang tidak memerlukan alasan, (apacoba, jadi berlebihan eiy).
Balik ke cerita. Sakit membuat
saya berpikir jauh. Setiap sedang sakit saya kerap bergumam dalam hati, “Jangan
sedih, Dian. Tidak perlu mengeluh kepada siapapun. Sakit In Syaa Allah menjadi
penggugur dosa. Inget apa kesalahan-kesalahanmu. Manfaatkan sakit untuk lebih
mendekatkan diri pada Allah dengan mengingat kematian”. La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin.
Saat berpikir akan meminum obat
apa tuk meredakan demam yang semakin tinggi, tiba-tiba saya teringat madu hutan
yang saya beli di Malang.
ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16: 69)
Rosulullah berpesan,
"Ambillah atau pergunakanlah
olehmu sekalian akan dua obat penyembuh yaitu madu dan al-Qur'an." (Hadits
riwayat Ibnu Majah)
Tanpa membuang waktu, saya
langsung minum 2 sendok madu. Beberapa jam kemudian 2 sendok lagi. Begitu seterusnya. Ya, hari itu perut saya penuh diisi madu. Selain karna memang tidak nafsu makan, madu efektif
meredakan rasa pahit di mulut. Setelah minum madu, saya rebahkan badan dan
pejamkan mata. Saya tertidur beberapa jam.
Saat bangun saya merasa kepala
yang awalnya berat, menjadi lebih ringan. Demam tinggi yang membuat saya tidak
sanggup kena air (sekalipun hanya tuk wudhu, dan akhirnya bertayamum) pun
ilang. Alhamdulillahirrabbil’alamiin. Allah cepat sekali memberi kesembuhan
untuk saya. Mungkin lewat madu tersebut Allah mau meyakini saya bahwa setiap
perkataan Rosul benar. Saya seperti diberi teguran agar terus mencari apa
kebiasaan-kebiasaan Rosul dan mengikuti semampunya. Sejak saat itu, In Syaa Allah saya jadi
rutin minum madu. Semoga Allah Ridhoi saya tuk bisa mengikuti sunnah Rosul yang
lainnya *Senyum*. (Inti tulisan ini bukan promo produk madu tertentu, hanya
berbagi khasiat madu)
Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii
*sincerely, its note to Myself*
-dii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar