Kamis, 17 April 2014

merugi

aku merasa menjadi manusia yang amat merugi apabila;
saat masih mempunyai sepiring nasi, namun berpikir mengapa lauk orang lain lebih enak dari lauk di piringku?
masih memakai baju, namun berpikir mengapa brand baju orang lain lebih wah dari yang ku beli?
masih memiliki anggota tubuh lengkap, namun berpikir mengapa rambut, tubuh, warna kulit orang lain lebih rupawan dipandang dari diriku?

dan aku merugi,
jika ku terus fokus mengejar apa yang ingin aku raih, hingga aku kadang terlupa mensyukuri apa yang telah Allah beri.

dan aku merugi,
jika aku penuhi hati dengan amunisi menggenggam semua ambisi, hingga tersadar yang aku ingini hanya hal semu tanpa arti

dan aku merugi,
jika aku dengki, aku iri, aku tak mensyukuri..

aku terlalu larut berangan, memandang hanya dengan kacamata dunia.
aku terlalaikan dari mengingatNya.. dari kerinduan akan pertemuan denganNya..



aku ingin melangkah..mendekat denganNya secara kaffah..

semoga Allah meridhoi aku menyertakanNya dalam setiap desah nafas..
hingga aku terlupa cara menduakanNya dengan dunia..

"Rabb berikanlah rasa rindu dalam hati ini, rindu akan perjumpaan denganMu.."


Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii



Jumat, 14 Maret 2014

ketakutan

ketakutan itu kembali muncul,
ia hilang dalam keramaian,
dan datang kembali dalam keheningan..

Rasa takut itu menghampiri saat sepi, seiring sunyi yang perlahan merasuk sanubari..

ketakutan ini kemudian menjadi teman,
seolah teman yang tak lelah mengingatkan...bahwa;
ada Dzat yang harus diprioritaskan..

Ketakutan membuat aku mencari,
Kemana aku seharusnya berlindung diri?
Dimana aku seharusnya bersandar hati?

Terjawab dalan sejuta makna
makna yang terkandung dalam asa..

kelak, tatkala ketakutan ini tersudahi,
aku tau dimana aku berdiri..
Ya, di depanMu..
Menghisab segala perbuatan selama ini..

'Aku berlindung hanya kepadaMu, Yaa Rabbi'

Selasa, 04 Maret 2014

diam, kejauhan, kesederhanaan, keikhlasan

ketika pandangan aku lepaskan
ketika perhatian aku berikan
ketika kegundahan aku adukan
ketika kebahagiaan aku bagikan...
pada dia selain-Nya,
ketika itu pula aku tersadar; bahwa langkahku telah melenceng dari aturan.

Dan benar lah tentang ancamanNya; semua akan berujung pada keresahan..
Gelisah yang tak berkesudahaan, buah dari kekhilafan..
Sekali lagi, ketenangan tak akan datang beriringan dengan kemaksiatan..

Berkatalah aku pada diriku sendiri,
Cobalah bercermin, tanya pada sosok yang ada di cermin;

"jujur pada matamu, apa yang telah kau pandang?, jujur pada telingamu, apa yang telah kau dengarkan?, jujur pada mulutmu, apa yang telah kau ucapkan?, jujur pada hatimu, apa yang telah kau angankan?
Diam lah sejenak,
ijinkan hati kecilmu memusabahi segala kealpaan dan kebodohan yang menyulutkan kecemburuan dari Sang Maha Penyayang,"

kini, aku mengharap yang terbaik, bukan menurutku, tapi menurut Dia..

Aku yakin...saat Allah membenci suatu khilaf hamba-Nya, sesungguhnya Allah tetap menjadi yang paling mencintai kita. Karna, cinta Allah akan selalu ada tuk hamba yang mau kembali pada-Nya.
Meski tak mudah untuk kaki ini melangkah,
tapi aku harus tetap berbalik arah, kembali kepada-Nya..

Dan tuk kini,
Biarkan aku dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan...

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-










Senin, 03 Maret 2014

Entah


kadang kita harus membuang sesuatu bukan karena kita tidak suka, tapi karna terlalu suka namun membuat resah.
Kadang kita harus merelakan sesuatu bukan karena kita tidak sayang, tapi karna terlalu sayang, namun membuat perasaan tak tenang.
Kadang kita harus melenyapkan sesuatu bukan karena kita tidak ingin, tapi justru karna terlalu ingin, namun membuat hati bak terombang ambing.
Timbul sebuah pertanyaan,
Mengapa yang kita sukai, sayangi, dan ingini justru membuat perasaan menjadi resah,  tak tenang, bahkan bak terombang ambing?
Apa yang salah?
Hmm, yang jelas Allah tidak pernah salah memberikan semua rasa itu kepada kita. Dia Maha Sempurna atas segala ketetapan-Nya.
Hanya saja kita kurang menyadari;
Bahwa kita tak akan pernah mampu menerima rasa-rasa tersebut tanpa memohon perlindungan dari-Nya.
Dan kita harus paham, ketenangan tak akan pernah datang beriringan dengan rasa-rasa yang tak dikelola sesuai cara yang Dia Suka.
Sungguh, kita itu adalah aku.

Yaa Allah, aku berlindung darimu dari semua rasa-rasa itu.

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii-

Minggu, 23 Februari 2014

Buah Manis Kesabaran Orangtua..


Bismillahirrahmanirrahim..
Pagi ini saya mencoba menulis ulang cerita yang saya baca beberapa jam lalu di instagram. Kisah yang –menurut pribadi—menjadi tamparan sekaligus motivasi. Betapa tidak, disini kita akan melihat bahwa mendidik anak menjadi seorang hafidz bisa dilakukan orangtua manapun. Tak melulu mereka yang bergelar ustad/ustadzah atau background pesantren. Jadi, buat kita yang orang tua atau calon orang tua, tidak ada alasan tuk tidak mengarahkan anak-anak kita mencintai Al-Qur’an. In Syaa Allah kisah ini bisa menjadi penyemangat dan pengingat (sincerely, its note to myself).
=============================================================
Kisah pembelajaran Abdullah, haafizhul Qur’an usia 10 tahun. Ayahnya, Farid Fadhillah, bercerita, “Beberapa orang yang nanya ke saya bahwa mereka tidak bisa mendidik anak-anak hafidz dan hafidzhoh karna mereka sendiri bukan hafidz. Sementara anak-anak sekolah di sekolah umum”. Farid akan memberi gambaran keadaan Abdullah dan uminya(sebagai guru utamanya).

Abdullah sebenarnya termasuk anak yang lambat bicaranya. Dia baru  berbicara di usia 4.5 tahun. Sementara ibunya bukanlah hafidhoh atau ustadzah, hanya orang biasa. Abdullah pun sekolah di sekolah umum, bukan pesantren. Bukan pula sekolah tahfidz sebagaimana umumnya dijumpai di Saudi.

Abdullah mulai belajar Al Qur’an dari Ayahnya dengan panduan kitab Iqra yang melegenda itu. Ketika itu usianya 4.5 tahun. Abdullah mulai menghafal Al Qur’an dengan bimbingan uminya sejak usia 5 tahun. Dia menghafal dari potongan suku kata. Caranya, setelah uminya membaca, dia mengikuti per suku kata, diulang berpuluh-puluh kali. Setelah hafal suku kata tersebut, kemudian pindah ke suku kata berikutnya, begitu seterusnya. Sampai dapat 1 baris. Kemudian diulangi lagi baris tersebut berpulu-puluh kali. Setelah itu baru pindah ke baris 2. Dalam sehari Abdullah dapat menghafal 1 – 2 baris, tergantung  kondisinya ketika itu.

Biasanya, Abdullah menghafal dari belakang ke depan, kecuali Al Fatihah. Jadi, surat pertama setelah Al-Fatihah adalah An naas, dan seterusnya hingga Al Baqoroh. Keesokan harinya, sebelum ia melanjutkan hafalan, Abdullah akan mengulangi lagi apa yang dia hafalkan hari sebelunya. Saat hafalannya telah selesai 1 surat, ia akan mengulang-ulangi 1 surat tersebut dalam satu hari.  Dia akan murojaah lagi ketika sudah mendapatkan satu halaman.

Menurut Farid, Umi Abdullah luar biasa sabar membimbing hafalan per suku kata ini sampai Abdullah hafal 2 juz terakhir, yakni juz 29 dan 30. Setelah berhasil dengan metode 2 baris perhari, Uminya menambah menjadi 4 baris hingga setengah halaman sehari. Menurutnya setengah halaman sudah maksimun karena Abdullah juga harus belajar pelajaran lainnya.

Hafalan 4 baris hingga setengah halaman per hari berlangsung kira-kita sampai juz ke 20. Selama masa aktif sekolah Abdullah hanya bisa menghafal 2 juz. Dia mendapat banyak hafalan ketika musim liburan. Semakin lama semakin Abdullah cepat mengahafal, hingga ketika hafalannya kurang 5-6 juz terakhir ia mampu menghafal 4 setengah halaman dalam sehari. “Seingat saya Al-Baqoroh kurang lebih selesai dalam waktu 2 minggu”, ucap Farid.

Ketika musim liburan semester di Saudi, Abdullah mulai mengafal setelah sarapan pagi,  pukul 06.00 – 08.00 waktu Saudi. Setelah 2 jam menghafal, kemudian istirahat setengah jam dan kembali melanjutkan hingga pukul 10.00. Istirahat lagi setengah jam, dan lanjut hingga pukul 12.00. setelah itu sholat dhuhur, makan siang, istirahat. Pukul 15.00 kembali melanjutkan hingga ashar, setelah ashar melanjutkan hingga maghrib. Sementara Abdullah tengah hafalan sendiri, Uminya menerima setoran hafalan adik Abdullah, yaitu Abdurrahman. Alhamdulillah Abdurrahman sudah hafal 12 juz. Setelah adiknya selesai, gentian Abdullah yang setoran. Begitu seterusnya.

“Istri saya hamper setiap malam sakit punggung akibat lamanya duduk untuk menyimak setoran hafalan anak-anak,” cerita Farid yang mengaku sudah 5 tahun menerapkan metode hafalan seperti itu. Sekarang Abdullah tinggal murojaah, focus berpindah pada Abdurrahman. Dan dalam setahun kedepan giliran adik dibawahnya lagi yaitu Abdurrazaq sudah menunggu juga. Masyaa Allah.

Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”. (HR. Al Hakim).

Kisah didapat dari Instagram akun @hijabsyarie, merupakan Cerita yang didapat langsung dari Farid selaku ayah dari Abdullah, dan beliau sudah ijinkan untuk share cerita di atas via Abu Hasan @kajianislam.

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii




Selasa, 18 Februari 2014

sendiri


Pernahkah kau merasa kesepian di tengah keramaian? Atau meraih ketenangan saat menjadi si asing diantara kerumunan?
Jika iya, ketahuilah keadaan seperti itu lumrah. Kerap terjadi.
Sejatinya memang tidak ada insan yang mampu membingkai hidupnya hanya pada satu situasi,
karna;
Tidak selalu sendiri itu sepi,
Tidak melulu ramai itu sorai..
Kadang sendiri membuat  tenang,
kadang ramai mendatangkan gersang.,
Adakalanya membutuhkan waktu tuk sendiri, bukan menyepi, tapi agar lebih mengenal diri.
Dan adakalanya dengan menyendiri, kita mudah memuhasabahi dan menyadari kealpaan - kealpaan diri.

“Sometime you need to be alone so that you can be alone with Allah”

Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii

Minggu, 09 Februari 2014

MADU



 “Alhamdulillahirrabbil’alamin”. Mungkin itu kalimat yang pas untuk mengawali tulisan kali ini.
Sejujurnya tidak ada yang patut saya lakukan selain bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Betapa tidak, nikmat Allah selalu tercurah deras kepada saya. Mungkin jika saya menyebutkannya sepanjang usia saya pun pastilah tidak akan habis(nikmat tersebut). Dia memberi melebihi yang diminta. Di mengasihi sekalipun kadang dilupakan. Dia mencintai dengan sempurna meski diri ini hina. Sungguh, Segala Puji Hanya Milik Engkau. Tuhan Semesta Alam.

Ini tentang kejadian minggu lalu. Sepulang dari Malang saya merasa ada yang aneh dengan badan. Beberapa kali saya merasa ngilu di bagian tulang belakang. Suhu tubuh naik turun. Nafsu makan mendadak hilang. Pandangan nanar. Dan semakin tak wajar saat telapak kaki mulai tak nyaman berpijak di lantai lantaran merasa kedinginan yang luar biasa.

Saya memutuskan berdiam di kamar. Saya habiskan hari selasa kemarin dengan membaca, dan tiduran. Hmm, tapi lebih banyak tidurnya sih, hehe. Rupanya istirahat seharian tidak berpengaruh banyak dengan kondisi badan saya. Tepat keesokan harinya, tubuh makin drop. Bahkan jadi sulit untuk duduk. Dan seperti biasa, saya tidak cerita ke orang rumah. 

Namun tak lama kemudian kakak saya engeh setelah dia mendapati saya tengah mengigil. Dia menyarankan ke dokter. Tapi saya hanya iya iya saja. Sejujurnya saya termasuk orang yang males ke dokter. kalau ditanya alasannya kenapa, saya jawab tidak tau. kenapa tidak tau? hmm ..karna kita harus mengerti bahwa , kadang ada hal-hal yang tidak memerlukan alasan, (apacoba, jadi berlebihan eiy).

Balik ke cerita. Sakit membuat saya berpikir jauh. Setiap sedang sakit saya kerap bergumam dalam hati, “Jangan sedih, Dian. Tidak perlu mengeluh kepada siapapun. Sakit In Syaa Allah menjadi penggugur dosa. Inget apa kesalahan-kesalahanmu. Manfaatkan sakit untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dengan mengingat kematian”. La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin.

Saat berpikir akan meminum obat apa tuk meredakan demam yang semakin tinggi, tiba-tiba saya teringat madu hutan yang saya beli di Malang.

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16: 69)

Rosulullah berpesan,
"Ambillah atau pergunakanlah olehmu sekalian akan dua obat penyembuh yaitu madu dan al-Qur'an." (Hadits riwayat Ibnu Majah)

Tanpa membuang waktu, saya langsung minum 2 sendok madu. Beberapa jam kemudian 2 sendok lagi.  Begitu seterusnya. Ya, hari itu perut saya penuh diisi madu. Selain karna memang tidak nafsu makan, madu efektif meredakan rasa pahit di mulut. Setelah minum madu, saya rebahkan badan dan pejamkan mata. Saya tertidur beberapa jam.

Saat bangun saya merasa kepala yang awalnya berat, menjadi lebih ringan. Demam tinggi yang membuat saya tidak sanggup kena air (sekalipun hanya tuk wudhu, dan akhirnya bertayamum) pun ilang. Alhamdulillahirrabbil’alamiin. Allah cepat sekali memberi kesembuhan untuk saya. Mungkin lewat madu tersebut Allah mau meyakini saya bahwa setiap perkataan Rosul benar. Saya seperti diberi teguran agar terus mencari apa kebiasaan-kebiasaan Rosul dan mengikuti semampunya. Sejak saat itu,  In Syaa Allah saya jadi rutin minum madu. Semoga Allah Ridhoi saya tuk bisa mengikuti sunnah Rosul yang lainnya *Senyum*. (Inti tulisan ini bukan promo produk madu tertentu, hanya berbagi khasiat madu)


Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii