Bismillahirrahmanirrahim..
Pagi ini saya mencoba menulis
ulang cerita yang saya baca beberapa jam lalu di instagram. Kisah yang –menurut
pribadi—menjadi tamparan sekaligus motivasi. Betapa tidak, disini kita akan
melihat bahwa mendidik anak menjadi seorang hafidz bisa dilakukan orangtua
manapun. Tak melulu mereka yang bergelar ustad/ustadzah atau background pesantren.
Jadi, buat kita yang orang tua atau calon orang tua, tidak ada alasan tuk tidak
mengarahkan anak-anak kita mencintai Al-Qur’an. In Syaa Allah kisah ini bisa
menjadi penyemangat dan pengingat (sincerely, its note to myself).
=============================================================
Kisah pembelajaran Abdullah,
haafizhul Qur’an usia 10 tahun. Ayahnya, Farid Fadhillah, bercerita, “Beberapa
orang yang nanya ke saya bahwa mereka tidak bisa mendidik anak-anak hafidz dan
hafidzhoh karna mereka sendiri bukan hafidz. Sementara anak-anak sekolah di
sekolah umum”. Farid akan memberi gambaran keadaan Abdullah dan uminya(sebagai
guru utamanya).
Abdullah sebenarnya termasuk anak
yang lambat bicaranya. Dia baru
berbicara di usia 4.5 tahun. Sementara ibunya bukanlah hafidhoh atau
ustadzah, hanya orang biasa. Abdullah pun sekolah di sekolah umum, bukan
pesantren. Bukan pula sekolah tahfidz sebagaimana umumnya dijumpai di Saudi.
Abdullah mulai belajar Al Qur’an
dari Ayahnya dengan panduan kitab Iqra yang melegenda itu. Ketika itu usianya
4.5 tahun. Abdullah mulai menghafal Al Qur’an dengan bimbingan uminya sejak
usia 5 tahun. Dia menghafal dari potongan suku kata. Caranya, setelah uminya
membaca, dia mengikuti per suku kata, diulang berpuluh-puluh kali. Setelah
hafal suku kata tersebut, kemudian pindah ke suku kata berikutnya, begitu
seterusnya. Sampai dapat 1 baris. Kemudian diulangi lagi baris tersebut
berpulu-puluh kali. Setelah itu baru pindah ke baris 2. Dalam sehari Abdullah
dapat menghafal 1 – 2 baris, tergantung
kondisinya ketika itu.
Biasanya, Abdullah menghafal dari
belakang ke depan, kecuali Al Fatihah. Jadi, surat pertama setelah Al-Fatihah
adalah An naas, dan seterusnya hingga Al Baqoroh. Keesokan harinya, sebelum ia
melanjutkan hafalan, Abdullah akan mengulangi lagi apa yang dia hafalkan hari
sebelunya. Saat hafalannya telah selesai 1 surat, ia akan mengulang-ulangi 1
surat tersebut dalam satu hari. Dia akan
murojaah lagi ketika sudah mendapatkan satu halaman.
Menurut Farid, Umi Abdullah luar
biasa sabar membimbing hafalan per suku kata ini sampai Abdullah hafal 2 juz
terakhir, yakni juz 29 dan 30. Setelah berhasil dengan metode 2 baris perhari,
Uminya menambah menjadi 4 baris hingga setengah halaman sehari. Menurutnya
setengah halaman sudah maksimun karena Abdullah juga harus belajar pelajaran
lainnya.
Hafalan 4 baris hingga setengah
halaman per hari berlangsung kira-kita sampai juz ke 20. Selama masa aktif
sekolah Abdullah hanya bisa menghafal 2 juz. Dia mendapat banyak hafalan ketika
musim liburan. Semakin lama semakin Abdullah cepat mengahafal, hingga ketika
hafalannya kurang 5-6 juz terakhir ia mampu menghafal 4 setengah halaman dalam
sehari. “Seingat saya Al-Baqoroh kurang lebih selesai dalam waktu 2 minggu”,
ucap Farid.
Ketika musim liburan semester di
Saudi, Abdullah mulai mengafal setelah sarapan pagi, pukul 06.00 – 08.00 waktu Saudi. Setelah 2
jam menghafal, kemudian istirahat setengah jam dan kembali melanjutkan hingga
pukul 10.00. Istirahat lagi setengah jam, dan lanjut hingga pukul 12.00.
setelah itu sholat dhuhur, makan siang, istirahat. Pukul 15.00 kembali
melanjutkan hingga ashar, setelah ashar melanjutkan hingga maghrib. Sementara
Abdullah tengah hafalan sendiri, Uminya menerima setoran hafalan adik Abdullah,
yaitu Abdurrahman. Alhamdulillah Abdurrahman sudah hafal 12 juz. Setelah
adiknya selesai, gentian Abdullah yang setoran. Begitu seterusnya.
“Istri saya hamper setiap malam
sakit punggung akibat lamanya duduk untuk menyimak setoran hafalan anak-anak,”
cerita Farid yang mengaku sudah 5 tahun menerapkan metode hafalan seperti itu.
Sekarang Abdullah tinggal murojaah, focus berpindah pada Abdurrahman. Dan dalam
setahun kedepan giliran adik dibawahnya lagi yaitu Abdurrazaq sudah menunggu
juga. Masyaa Allah.
Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah
Saw. bersabda “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan
mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat,
cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua
jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya
bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian
berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”. (HR. Al Hakim).
Kisah didapat dari Instagram akun
@hijabsyarie, merupakan Cerita yang didapat langsung dari Farid selaku ayah
dari Abdullah, dan beliau sudah ijinkan untuk share cerita di atas via Abu
Hasan @kajianislam.
Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii