Jarum jam mengarah pukul 9
lewat 48 menit. Aku memilih duduk selonjor sembari bersandar di dinding bercat
biru kamarku. Ya, tepat di samping jendela yang tidak tertutup full. Aku
memang sengaja tak menutup rapat agar angin dapat masuk dari sela-sela jendela dan
menyejukkan seiisi kamar.
Satu per satu tuts
keyboard aku tekan. Tak tik tak tik tak tik. Begitulah irama mengalun kasar.
Tapi aku tetap menikmatinya. Aku anggap itu alunan hasil peraduan pikiran dan
perasaan..
*intermezzo*
Apa yang Aku Cari?
Mengapa Aku terlalu risau tentang
masa depan di dunia, sementara ia belum pasti kedatangannya.
Mengapa Aku kerap lalai tentang
masa depan di alam baka, padahal kelak aku kekal di dalamnya.
Adakah Aku lupa, sesungguhnya Aku
tak pernah memiliki hari esok, dan yang aku punya hanya hari ini.
Karna bila usia telah sampai di
hari esok, saat itu Aku tak akan lagi menyebutnya “esok”, tapi “hari ini”.
Bangunlah wahai diri!
Waktu terus berganti dan tak
menunggumu sadar tentang akhir kehidupan ini.
Ingatlah mereka yang ada disana!
Mereka adalah nasehat, mereka
adalah pengingat; disini kamu hanya sementara, dan disana kamu akan lama.
Teringat pesan Ustad Bachtiar Nasir;
Bukan “Cari kebahagiaan dunia
dan jangan lupakan akhirat”, tapi “Cari kebahagiaan akhirat dan jangan lupakan
dunia”
Dengan begitu, kamu akan tau mana
yang lebih prioritas..
Wallahu a'lam bish-shawabi.
*sincerely, its note to Myself*
-dii
*sincerely, its note to Myself*
-dii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar